Ketika Cak Nun Bicara Maritim dan Kandungan Al Maidah ayat 54

 

Cak Nun (kanan) bersama penulis buku maritim Letkol Laut (P) Salim (kiri)

MNOL, Yogyakarta – Jika para praktisi maritim, nelayan, TNI AL, pemerintahan dan ranah-ranah kampus sudah biasa berbicara kemaritiman, namun sangat langka ketika seorang budayawan bahkan ulama membahas maritim dari sudut pandang agama. Budayawan sekaligus ulama serta tokoh masyarakat Emha Ainun Najib akhirnya harus berbicara maritim di kediamannya di Bantul, Yogyakarta.

Hal itu terpaksa dilakukannya ketika ia didatangi seorang penulis buku maritim yang juga merupakan seorang Pamen TNI AL, Letkol Laut (P) Salim di kediamannya untuk berbincang soal karyanya yang menyangkut bagaimana membangun Indonesia sebagai negara maritim yang besar.

“Tentunya buku ini mengingatkan saya dengan Banawa Sekar, suatu wadah yang saya bangun untuk memadukan konsep maritim dan darat agar saling bersinergi dan bermanfaat untuk kehidupan,” ujar Cak Nun biasa akrab disapa di Yogyakarta, (27/5).

Dalam bahasa Jawa, Banawa yang berarti perahu atau kapal merupakan repersentasi dari lautan. Sedangkan Sekar yang merupakan kembang dalam bahasa Jawa merepresentasikan daratan. “Jadi kalau orang sudah melaut itu lupa daratan dan orang yang di darat menanam kembang dia lupa dengan lautan. Ini agar kedua-duanya saling bersinergi,” terang pria asal Jombang, Jawa Timur tersebut.

Cak Nun yang lebih dikenal publik dengan konser Kiai Kanjeng-nya sejak era 1980-an itu menyatakan bahwa kehidupan nelayan atau masyarakat pesisir memiliki keunikan tersendiri. Hal ini yang menurutnya perlu difikirkan oleh pemerintah agar tidak melihat dalam satu sisi kehidupan.

“Bagaimana ketika nelayan melaut pasti punya perasaan yang berbeda ketika sedang di darat bersama anak dan istrinya. Itu tadi istilah Banawa Sekar berjalan dalam diri seorang nelayan, kemudian bagaimana jika suatu bangsa menjalankan kedua konsep itu, saya kira buku-buku karya Mas Salim ini bisa dijadikan referensi,” terangnya.

Cak Nun yang saat itu didampingi oleh putranya Noe (vokalis grub band Letto) mengakui dalam membangun tatanan masyarakat Indonesia sesuai yang kita harapkan memang sangat sulit. Itu tercermin kepada pola tingkah laku masyarakat Indonesia yang mengalami krisis moral bahkan tidak jelas siapa Tuhan (Sesembahan)-nya saat ini.

“Pesan saya kepada Mas Salim agar jangan berhenti menyampaikan nilai-nilai kemaritiman, kebangsaan bahkan keagamaan karena hasilnya tidak bisa kita lihat sekarang. Tapi Insya Allah, 10 tahun lagi akan terlihat,” imbuhnya.

Penuh Keakraban – Cak Nun (kanan) mengulas buku maritim karya Letkol Laut (P) Salim

Tak hanya itu, Cak Nun juga memberikan wejangan kepada Letkol Laut (P) Salim agar senantiasa mengingat ayat-ayat Tuhan karena cobaannya bisa dibilang berat dalam melakukan upaya ini. Ia pun bercerita detail tentang karut marut kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia saat ini.

Menurutnya, semua elemen hanya memikirkan uang dan jabatan saja sehingga keberkahan Tuhan kepada bangsa ini semakin tertutup. Di tengah kondisi demikian, ia bersama komunitas kecilnya dalam berbagai forum hanya berharap agar kecintaan Tuhan terhadap bangsa ini semakin meningkat.

“Kalau Tuhan sudah mencintai kita otomatis keselamatan akan terus dilimpahkan. Makannya saya membentuk agar manusia-manusia saat ini menjadi kekasihnya Tuhan atau orang-orang yang dicintai Tuhan,” seloroh dia.

Cak Nun yang pernah terlibat dalam Reformasi 1998 mencontohkan seperti kejadian umat-umat terdahulu (yang tertulis di Al-Qur’an) seperti umat Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth dan sebagainya yang diazab Tuhan karena telah menyakiti orang-orang yang dicintainya.

“Kalau di suatu kapal terdapat kekasih Allah dan kapal itu mau tenggelam pasti Allah perintahkan malaikat agar kapal itu tidak jadi tenggelam karena di situ terdapat orang yang dicintainya. Sama kalau istri kita diganggu, urusan hukum dikesampingkan dulu. Kan bisa saja analoginya seperti itu,” ujarnya kepada Salim yang pernah menjabat sebagai Komandan KRI itu.

Kendati bangsa ini mengalami karut marut, Cak Nun pun menyebutkan bahwa hingga saat ini masih ada para kekasih Allah yang masih hidup di sekitar kita. Sehingga hal itu menjadi daya, mengapa bangsa ini belum hancur.

Ia pun mencontohkan andaikata cobaan ini dialami oleh bangsa lain maka bangsa itu sudah hancur berkeping-keping. Tetapi untuk Indonesia masih sangat kuat untuk saat ini meskipun cobaan-cobaan yang lebih berat akan melanda negeri ini di tahun-tahun yang akan datang.

“Semua sudah skenario Allah, yang pasti bangsa kita masih banyak orang-orang yang legowo (ikhlas), sumeleh (berserah diri) dan ngalah (menerima). Karakter itu semua menjadi ‘Per’ (pegas-red) di bangsa kita,” jelasnya.

Ternyata penjabaran itu semua terangkum dalam Surat Al-Maidah ayat 54, yang kurang lebih bercerita tentang orang-orang yang dicintai Allah. Mereka lah yang akan menjadi tumpuan di bangsa ini dan memperbaiki keadaan. Tidak lupa juga ia menyinggung Al Maidah-51 (fenomena Pilkada DKI) yang merupakan salah satu skenario dari Allah.

“Dari situ jelas bahwa Allah menunjukan sekarang Tuhannya manusia ada Ahok, Habib Rizieq, dan lain-lainnya,” seloroh Cak Nun dengan gayanya yang khas.

Kembali pada soal kemaritiman, ia pun menyinggung ayat tersebut kaitannya erat dengan pembangunan pemimpin yang bervisi maritim atau ocean leadership. Karena tidak mudah memadukan dua konsep antara darat dan laut agar berjalan bersamaan untuk kemaslahatan bangsa.

“Seburuk-buruknya Bung Karno dan Pak Harto masih ada perbowo (kewibawaan) sehingga dunia internasional masih segan. Hari ini perbowo itu harus dibangun dengan kita mendekatkan diri pada Tuhan dan suatu hari nanti kita akan memanen hasilnya,” ulas suami dari Novia Kolopaking tersebut.

Di akhir penjelasannya, Cak Nun menerangkan bagaimana nenek moyang bangsa Indonesia dahulu benar-benar sebagai bangsa maritim yang besar. Hal itu ia temui buktinya berupa persamaan bahasa dengan Madagaskar, Hawaii, dan daerah-daerah lainnya di Samudra Pasifik.

“Saya yakin kejayaan maritim bangsa ini akan terulang yang terpenting kita jangan putus berdoa dan berusaha, karena kita tidak tahu skenario Allah ke depan bagaimana,” pungkasnya.

Wa ilaa rabbika farghab, hanya kepada Tuhanmu lah kamu berharap,” tutupnya dengan mengutip salah satu ayat Al-Qur-an.

(Adit/MN)

maritimnew

Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Share
Published by
maritimnew

Recent Posts

Pelindo Konsisten Jaga Kelestarian Lingkungan Laut

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) konsisten…

11 hours ago

Kunjungan Sosial Kopkar TPK Koja Ke GMMI

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim.piatu, Koperasi Karyawan (KOPKAR) Terminal Petikemas…

3 days ago

Pelindo Panjang: Optimalisasi dan Sinergi, Kunci Pertumbuhan Positif

Bandar Lampung (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Panjang mencatat kinerja operasional yang…

4 days ago

IPC TPK Catat 850 Ribu TEUs di Triwulan I 2026

Jakarta (Maritimnews) - PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berhasil menjaga kinerja operasional secara solid…

4 days ago

Masa Lebaran 2026, Arus Penumpang Pelindo Meningkat 14,14%

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) mencatat kinerja operasional yang positif dalam melayani angkutan…

5 days ago

Pelabuhan Kita Masih Berdiri di Atas Fondasi yang Rapuh

Ini bukan soal satu atau dua pelabuhan yang perlu diperbaiki. Ini adalah kegagalan sistemik yang…

6 days ago