Menko Luhut dalam acara The 30th IAPH World Ports Conference 2017, di Bali, Rabu (10/5)
MNOL, Bali – Menko Maritim Luhut B Pandjaitan di sela-sela acara The 30th IAPH World Ports Conference 2017, di Bali, Rabu (10/5) menyatakan bahwa peranan pelabuhan dinilai sangat penting untuk sebuah negara seperti Indonesia.
Sebab, menurutnya pelabuhan tersebut merupakan gerbang untuk mendorong ekonomi negara dalam perdagangan Internasional maupun hubungan Internasional.
“Pelabuhan-pelabuhan besar memainkan peran sebagai pelabuhan penghubung, sementara untuk pelabuhan yang lebih kecil sangat penting untuk kegiatan ekonomi lokal,” kata Luhut.
Oleh karena itu, untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal, Indonesia terus mempromosikannya melalui program yang disebut dengan Tol Laut. Program ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan, aksesibilitas, dan keterjangkauan kebutuhan dasar, pulau-pulau terluar dan terpencil.
“Dari tahun ke tahun, kinerja program ini terus berjalan baik. Pemerintah juga telah mengurangi harga kebutuhan dasar hingga 20% secara rata-rata. Sementara itu, di tahun 2017 ini pemerintah juga telah menambah jumlah rute dan dan jenis kargo, serta melibatkan pihak lain dan swasta untuk berpartisipasi,” terangnya.
Lebih lanjut, Purnawirawan TNI AD itu menyatakan di tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02%; dengan pertumbuhan ekonomi dunia 3,26% antara tahun 2009 dan 2016.
“Kami sangat senang mengenai hal tersebut. Tapi kami tetap masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan, yaitu adanya ketidakseimbangan dalam pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Masih kata dia, pertumbuhan ekonomi di Bagian Barat Indonesia sebesar 5,25%, sedangkan 4,75% di bagian Timur. Salah satu penyebabnya adalah infrastruktur, termasuk pelabuhan pelabuhan dan konektivitas infrastruktur lainnya.
“Untuk mengurangi kesenjangan ini, diperlukan jumlah anggaran yang signifikan dan program-program yang telah dialokasikan untuk membangun infrastruktur di bagian timur, termasuk di pulau-pulau terpencil,” bebernya.
Dalam tiga tahun terakhir,sambung Luhut, anggaran infrastruktur telah meningkat lebih dari 100%. Anggaran tambahan tersebut berasal dari realokasi subsidi energi yang menurun lebih dari 77%.
Meski demikian, lanjut dia, walaupun kita telah meningkatkan anggaran, tetapi kita tetap membutuhkan investasi dari pihak swasta, termasuk investor internasional.
“Pada kesempatan ini, saya mengundang anda untuk berinvestasi ke Indonesia. Saya bisa yakinkan Anda bahwa pemerintah saat ini sedang melakukan yang terbaik untuk melayani publik,” tandasnya.
Mantan politisi Golkar itu juga menyatakan sesuai dengan data Bank Dunia, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara yang memberikan kemudahan berbisnis. “Kami loncat 15 peringkat dari tahun 2016 untuk menjadi urutan ke 91 dari 190 negara yang dinilai,” tuturnya.
“Kami telah bekerja sangat dekat dengan beberapa negara di Asia, Eropa, Australia, dan juga AS. Saya ingin mendorong sektor swasta untuk memperkuat kerja sama. Saya tahu bahwa BUMN Indonesia mampu bekerja sama dengan mitra Internasionalnya dalam membangun pelabuhan laut dalam dari Kuala Tanjung di sumatera Utara hingga Bitung dan Sorong,” tambahnya lagi.
Dalam program ini, pemerintah terus bekerja keras untuk mengkampanyekan dan mempromosikan kebersihan laut, melalui aksi bersih nasional. Kampanye ini fokus pada ‘Marine Plastic Debris’ (sampah plastik laut). Isu ini juga penting untuk bisnis dan industri pelabuhan dan marina. Menko Luhut menekankan, bahwa banyak sekali peluang untuk bekerjasama dalam industri maritim.
“Saya akan memastikan anda bahwa pemerintah indonesia bersama anda, dan kami akan melakukan yang terbaik untuk melayani anda lebih baik. Saya berharap anda semua dapat menjalani konferensi yang produktif. Dan jangan lupa untuk menghabiskan waktu anda untuk menikmati Bali dan Indonesia,” seloroh dia.
Pelabuhan yang Efisien
Indonesia memang membutuhkan investor dari luar sebagaimana yang telah diutarakan Menko Luhut. Indonesia memiliki APBN yang terbatas yang hanya bisa membiayai 20% dari seluruh pembangunan infrastruktur.
“Jadi kita ajak mereka masuk di sini dan meng-establish kerja sama dan juga pembangunan. Jadi jangan hanya bersaing. Saya senang tadi pak Dirut Pelindo II punya ide untuk membuat pelabuhan lebih efisien,” katanya.
Menurutnya, pemerintah tidak hanya ingin dwelling time saja yang turun, sementara cost-nya masih tinggi. Tetapi harus dua-duanya turun.
Oleh karena itu, Menko Luhut mengaku bahwa pemerintah saat ini sedang mengatur, membuat agar cost-nya lebih rendah, sehingga bisa kompetitif dan juga dapat meminimalisasi harga-harga produksi menjadi lebih baik.
“Pembangunan tol sudah mulai kelihatan hasilnya. Yang tadinya orang kritik-kritik, sekarang bisa kita lihat harga-harga bisa turun rata-rata antara 15 – 25% karena pelindo I, II, III, dan IV sesuai daerahnya masing-masing sudah bekerja,” ungkapnya.
Pemerintah, menurutnya, juga akan terus membangun tol logistik di 30 titik yang tersebar di Indonesia Timur dan Indonesia Barat pada daerah terpencil.
Ia menambahkan, masalah inefisiensi di pelabuhan tak bisa dipungkiri. Namun, kata Menko Luhut, untuk mengatasi hal itu, PT Pelindo I, II, III, dan IV telah sepakat untuk menyamakan costnya.
“Yang bikin kan kita-kita juga. Sepanjang itu untuk kepentingan rakyat banyak kenapa repot? Ganti aja itu kan bukan kitab suci,” pungkasnya.
(Adit/MN)
Jakarta (Maritimnews) - Keluarga Besar Federasi Serikat Pekerja (FSP BUMN Bersatu) berdukacita atas kejadian tabrakan…
Jakarta (Maritimnews) - Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada…
Makassar (Maritimnews) - Peluang kolaborasi internasional di sektor kepelabuhanan dan kawasan industri semakin terbuka setelah…
Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkuat sinergi…
Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Peti Kemas (IPC TPK) area Panjang berhasil menjaga produktivitas…
Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) konsisten…