Prof. Rokhmin Yakin Indonesia Saingi Produksi Lobster Vietnam dalam 3 Tahun

Penasihan Menteri Kelautan dan Perikanan Prof. Dr. Rokhmin Dahuri saat memberikan ulasan di hadapan para nelayan.

MN, Jakarta – Paska kembali dari lawatan kerja ke Australia, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo optimis usaha eskpor benih lobster serta budidaya lobster akan segera menggeliat di tanah air.

Usai mempelajari secara serius di negeri kanguru tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sangat yakin pembenihan lobster (hatchery) bisa dilakukan di Indonesia dan dalam jangka waktu tiga tahun ini diharapkan, Indonesia menjadi negara penghasil lobster yang mampu menyaingi Vietnam.

Hal ini disampaikan oleh Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Prof. Rokhmin Dahuri dalam ulasannya  saat bertemu dengan para pelaku usaha dan akademisi di Gedung Mina Bahari III, KKP, Jakarta, Selasa (3/3).

“Kemarin saya lihat menetaskan telur (lobster) bisa dilakukan di Tasmania. Semakin digunakan (teknologinya) semakin murah dan efisien. Untuk ekspor benih lobster nanti dikasih kuota dan waktunya akan kita tentukan,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan pertama paska reformasi tersebut.

Lebih lanjut, Guru Besar Ilmu Kelautan IPB itu menyatakan bahwa dirinya juga sudah beberapa kali mengunjungi Vietnam untuk meninjau proses budidaya lobster di sana. Menurutnya pola di sana sangat maju terutama dalam hal pakan dan karakter pembudidayanya.

“Soal pakan di sana ada kerrang hijau, karena makanan yang paling lezat bagi lobster itu kerang hijau, itu dibudidayakan di sana, ditambah lagi ikan rucah. Jadi nanti (di sini) pakan kita genjot. Nah faktor yang kedua itu disiplin para pembudidayanya. Dalam membersihkan keramba jarring apungnya itu mereka rutin,” lanjutnya.

Ia juga menekankan bahwa pasar lobster di Vietnam sangat maju karena juga ditopang oleh sistem logistiknya. China sebagai negara terbesar dijualnya produk lobster Viernam bisa ditempuh oleh jalur darat hanya dalam jangka waktu delapan jam.

“Ini yang paling susah, logistik. Jadi pasar lobster Vietnam ke China itu cuma delapan jam diangkut menggunkanan truk. Kalau di kita kan bisa tiga hari,” tekannya.

Namun demikian, pria yang sedari kecil sudah akrab dengan kehidupan nelayan ini yakin jika dalam tiga tahun ini para pelaku usaha lobster kita kompak maka logistic cost-nya bisa ditekan. “Jadi kita main volume, misalnya (Vietnam) bisa satu juta, kita tiga juta sehingga ongkos kirim bisa di-cover begitu,” tegasnya.

Lebih jauh ia meyakini bahwa keuntungan dari ekspor lobster dan benih bukan lagi dinikmati oleh oknum segelintir orang melainkan bisa masuk ke kas negara.

“Saya perkirakan kalau US$ 8  (per ekor/benih) sementara kita ada 300 juta, itu sudah 2,4 miliar dolar AS kita terima,” pungkasnya.

A.P Sulistiawan

Redaktur

Share
Published by
A.P Sulistiawan

Recent Posts

Uji Emisi di Tanjung Priok, Pelindo Ajak Ekosistem Pelabuhan Jaga Lingkungan

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mendorong kolaborasi pengendalian emisi kendaraan di…

4 days ago

Sosialisasi Perkuat Ekosistem Vendor Pelindo Regional 4

Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo memperkuat ekosistem vendor di wilayah Regional…

4 days ago

Semester I 2026, Arus Barang PMT Tumbuh 10,85 persen

Medan (Maritimnews) – PT Pelindo Multi Terminal (PMT), anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang…

4 days ago

FSP BUMN Bersatu Dukung RUU Ketenagakerjaan, Adaptif Dengan Perubahan Ekosistem Berusaha

Jakarta (Maritimnews) – Dalam rangka pemenuhan keputusan MK soal pembentukan RUU Ketenagakerjaan, para Pimpinan DPR…

4 days ago

Aksi Damai Aliansi Pekerja Tanjung Perak di depan Pengadilan Tipikor Surabaya

Surabaya (Maritimnews) - Aliansi Serikat Pekerja Tanjung Perak menggelar aksi solidaritas sebagai bentuk dukungan terhadap…

4 days ago

FSP BUMN Bersatu Memohon Putusan Bebas Murni Bagi 6 Karyawan PT APBS Pelindo

Jakarta (Maritimnews) – Enam terdakwa perkara dugaan korupsi proyek pengerukan alur pelayaran yang berkaitan dengan…

5 days ago