AS-Iran Memanas, Pengamat : Butuh Diplomasi Intensif

MN, Jakarta – Memanasnya kondisi hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang semakin meningkat dalam beberapa hari terkahir, memunculkan kekhawatiran banyak pihak dari berbagai belahan dunia terkait situasi dunia ke depannya. Banyak pihak meragukan kondisi ini bisa mencapai titik didih dan bahkan meluap menjadi perang terbuka di antara kedua negara yang sudah lama tidak memiliki hubungan baik tersebut.

Menanggapi situasi ini, pengamat kemaritiman dan geopolitik dari Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI), Surya Wiranto, menilai konflik ini memang eskalasinya terus memanas yang dipertontonkan oleh kedua pihak yang berseteru tersebut melalui berbagai pernyataan – pernyataan pemimpin dari kedua negara ini dan juga persiapan militer yang semakin masif.

“Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat hingga level yang mengkhawatirkan, dengan persiapan militer dan retorika perang yang semakin keras dari kedua belah pihak,” ujar Purnawirawan TNI AL berbintang dua yang saat ini menjabat sebagai Penasehat Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI).

Lebih lanjut, Surya memaparkan bahwa ada selentigan kabar yang mengungkapkan bahwa AS mulai meninjau opsi-opsi strategis untuk melakukan tindakan terhadap Iran yang kemungkinan diawali dengan pemberian sanksi hingga aksi militer langsung. Di sisi lain, pejabat senior militer AS mengonfirmasi bahwa pasukan membutuhkan waktu tambahan untuk konsolidasi alutsista dan memperkuat pertahanan, sebagai antisipasi terhadap serangan balasan Iran yang potensial.

Iran sendiri tidak tinggal diam. Melalui Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, Teheran mengeluarkan peringatan keras bahwa serangan AS akan dibalas dengan menargetkan pangkalan militer Amerika di kawasan dan wilayah Israel, yang mereka sebut sebagai “target sah”. Pernyataan ini langsung meningkatkan tensi di Timur Tengah.

Israel sebagai sekutu utama AS, dilaporkan telah meningkatkan status siaga militernya, meski belum ada indikasi langsung akan intervensi. Situasi ini menciptakan dinamika yang sangat volatile, di mana kesalahan perhitungan atau provokasi kecil berpotensi memicu konflik terbuka yang lebih luas.

Dengan kedua pihak saling menunjukkan kesiapan tempur dan garis merah yang tegas, komunitas internasional mengawasi dengan cemas. Eskalasi militer bukan hanya akan menghancurkan stabilitas regional, tetapi juga berisiko mengguncang ekonomi global.

“Diplomasi intensif dibutuhkan segera untuk meredakan ketegangan sebelum mencapai titik kritis,” tutup pria yang saat ini juga menjadi Anggota Senior Advisory Group Ikatan Alumni Pertahanan (IKAHAN) Indonesia-Australia,

A.P Sulistiawan

Redaktur

Share
Published by
A.P Sulistiawan

Recent Posts

Pelindo Regional 4 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Makassar

Makassar (Maritimnews) – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 menyalurkan bantuan berupa bahan material bangunan…

24 hours ago

PINP dan Pelabuhan Kijing di Simpul Barat

Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan konektivitas pelayaran dan efisiensi biaya logistik, PT Pelabuhan Indonesia…

2 days ago

DJBC Kalbagbar Dukung Optimalisasi Ekspor dan Impor di Pelabuhan Internasional Kijing

Pontianak (Maritimnews) - Jajaran Kanwil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kalimantan Bagian Barat memberikan…

5 days ago

Petikemas Domestik Melonjak, Jakarta – Kijing Jadi Rute Primadona Baru

Pontianak (Maritimnews) - Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat sebagai pelabuhan hub internasional terbesar…

5 days ago

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI, Tiongkok, dan Thailand

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) secara resmi menyambut kehadiran layanan rute baru…

5 days ago

Memperkuat Stabilitas Fiskal Domestik dan Ketahanan Eksternal di tengah Dinamika Ekonomi Regional

Oleh: Arief Poyuono, SE, M.Kom (Komisaris Pelindo) Dinamika perekonomian global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan…

6 days ago