Published On: Sat, Apr 15th, 2023

Namarin: Keberadaan Pelabuhan Kuala Tanjung Sudah Tepat

Kegiatan B/M Petikemas di pelabuhan Kuala Tanjung

Jakarta (Maritimnews) – Keberadaan Pelabuhan Kuala Tanjung Sumatera Utara sebagai bagian dari Program Strategis Nasional, hilirisasi dan pengiriman logistik sudah tepat. Pelabuhan tersebut dapat menjadi pendukung aktivitas Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei serta kawasan industri di wilayah Kabupaten Batu Bara dan sekitarnya.

Menurut pengamat kepelabuhanan sekaligus Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, pelabuhan Kuala Tanjung sudah tepat yang didukung kawasan industri. Geliat aktivitas pelabuhan akan terus meningkat seiring beroperasi sejumlah pabrik di KEK Sei Mangkei ataupun yang ada di Kawasan Industri Kuala Tanjung.

Siswanto Rusdi menyampaikan dukungannya terhadap pelabuhan Kuala Tanjung untuk merespon anggapan beberapa pihak yang menyebutkan, bahwa pembangunan pelabuhan Kuala Tanjung adalah hal sia-sia.

“Bagaimana mereka yang ada di kawasan industri mau membangun pabriknya jika jauh dari pelabuhan, sementara kita tahu barang kontruksi ataupun mesin-mesin pabrik ukuran maupun jumlahnya juga cukup besar. Ini kita masih berbicara soal pembangunan pabrik, belum distribusi hasil produksi,” kata Siswanto di Jakarta, Jumat (14/4).

Siswanto menegaskan, pelabuhan Kuala Tanjung memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya adalah kolam pelabuhan yang memiliki kedalaman mencapai minus 17 meter lws (low water spring) yang dapat melayani kapal dengan ukuran panjang mencapai 250 meter, muatan barang kurang lebih mencapai 10.000 sampai 30.000 ton barang curah maupun general cargo dan peti kemas 4.000 TEUs.

“Letak pelabuhan Kuala Tanjung cukup strategis, ada di Selat Malaka. Jadi sangat efektif bagi industri, baik untuk ekspor maupun memenuhi kebutuhan dalam negeri,” terangnya.

Kondisi berbeda jika pelabuhan dibangun di tengah atau diakhir ketika kawasan industri sudah beroperasi, justru mengganggu distribusi barang karena belum adanya fasilitas pelabuhan. Pilihan menggunakan Pelabuhan Belawan akan menambah biaya logistik, mengingat jarak yang cukup jauh dari KEK Sei Mangkei maupun dari Kawasan Industri Kuala Tanjung.

“Membangun pelabuhan butuh waktu, tidak sebentar, tidak serta merta langsung bisa ramai karena akan mengikuti barang atau muatan yang ada. Semua pasti sudah ada kajiannya. Jadi keberadaan Pelabuhan Kuala Tanjung sudah tepat, tinggal bagaimana pihak-pihak berkepentingan berkolaborasi serta memacu pengembangan kawasan industri,” pungkasnya.

Sementara itu Direktur Utama PT Prima Multi Terminal (PMT Kuala Tanjung), Eko Hariyadi Budiyanto mengatakan, arus kapal dan barang di Pelabuhan Kuala Tanjung terus meningkat sejak beroperasi pertama kali pada tahun 2019.

Data arus peti kemas pada tahun 2019 tercatat sebanyak 23,9 ribu teus, sementara pada tahun 2020 tercatat sebanyak 54 ribu teus. Arus peti kemas mengalami peningkatan pada tahun 2021 yang mencapai 70,3 ribu teus dan mengalami sedikit penurunan sebesar 0,5 persen pada tahun 2022.

“Bukan hanya arus peti kemas yang mengalami peningkatan, arus barang curah kering juga tumbuh. Pada tahun 2022 lalu tercatat sebanyak 10,8 ton,” jelas Eko.

Manajemen PMT Kuala Tanjung telah bertemu dengan sejumlah operator kapal peti kemas internasional hingga para pemilik barang. Diperlukan sejumlah langkah guna meningkatkan kunjungan kapal, diantaranya insentif tarif bagi pelayaran, penyediaan depo untuk penumpukan peti kemas kosong (empty) dengan tarif kompetitif.

(Bayu Jagadsea/MN)

About the Author

- Akun ini merupakan akun milik tim redaksi MaritimNews.com dan dikelola oleh tim. akun twitter @MaritimNewsCom

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com