Para Peserta Selam Eksplorasi Bawah Laut Banyuwangi yang dilatih dan dibina oleh Kopaska TNI AL. (Foto: Aljun/MN)
MNOL, Banyuwangi – Sesuai dengan gagasan strategis pemerintah saat ini, yaitu membangun budaya maritim sebagai salah satu pilar pembangunan maritim Indonesia, maka kegiatan diving (menyelam) menjadi bagian penting dalam rangka perwujudan itu. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Instruktur Selam dari Kopaska TNI AL dalam kegiatan Eksplorasi Bawah Laut Banyuwangi, Letkol Laut (P) Baroyo Eko Basuki di Dusun Krajan, Desa Bansring, Banyuwangi, Jawa Timur (25/03/16).
Menurutnya, budaya maritim adalah hal yang paling utama. Oleh karena itu, Kopaska TNI AL bertanggung jawab untuk menyadarkan seluruh masyarakat agar tertanam jiwa maritim melalui kegiatan yang ada di laut, salah satunya diving.
“Kegiatan pelatihan diving kepada jurnalis ini merupakan salah satu hal yang dilakukan Kopaska TNI AL untuk menyadari masyarakat Indonesia betapa indahnya negeri ini buktinya dengan keindahan bawah lautnya,” ujar Baroyo.
Dengan seperti itu, Baroyo menjamin bahwa jiwa kemaritiman akan tumbuh dengan sendirinya bilamana seseorang telah terjun langsung untuk merasakan dan meresapi pesona bawah laut Indonesia.
Lebih lanjut, Pamen TNI AL berpangkat Melati Dua itu menerangkan dalam kegiatan diving ini terdapat 3 tahap pembelajaran, yaitu Kelas Sikal, Praktek Kolam Renang dan Praktek di Laut.
“Tahap-tahap ini untuk membentuk mental dan fisik kita, karena kegiatan di air bukanlah habitat kita, sehingga perlu adaptasi terlebih dahulu, ” jelasnya.
Masih kata Baroyo, fisik merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar dalam menyelam. Seseorang berhak mendapatkan sertifikasi menyelam ketika penyelam harus mampu secara teknis menyiapkan peralatan menyelam dan menggunakannya di air.
“Apabila para penyelam tidak mampu pada tahap ini maka tidak diijinkan menyelam, karena fatal akibatnya,” tegasnya.
Dengan demikian, menyelam menjadi suatu hal yang mengasyikkan jika mengikuti kurikulum yang ada. Kendati ada rasa takut di setiap penyelam pemula, Baroyo menuturkan hal itu menjadi suatu yang wajar.
Selanjutnya, di benak penyelam pemula juga masih terbayang tentang hantu laut sebagaimana sering dikisahkan dalam film-film. Kemudian ketakutan akan ombak yang besar juga kerap membuat down para penyelam pemula.
“Adanya mitos tentang jin di laut dan ombaknya besar itu adalah sesuatu hal yang wajar. Budaya maritim mengajarkan jika kita untuk menjaga alam, yang kemudian alam akan memberi kita lebih,” pungkasnya. (Aljun/MN)
Jakarta (Maritimnews) - Komitmen PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX: IPCC) untuk terus memperkuat kapasitas…
Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menunjukkan komitmennya mendukung kelancaran arus logistik internasional…
Jakarta (Maritimnews) - Melalui semangat Hari Raya Idul Adha, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berharap…
Tanjung Intan (Maritimnews) - Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M, program…
Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Tanjung Priok melaksanakan penyerahan Bantuan Program…
Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 menyalurkan total 35 ekor sapi kurban…