Letkol Laut (P) Salim (kanan) di Natuna
MNOL, Jakarta – Setelah melaksanakan ekspedisi di Bitung dan Tahuna, kini tim Ekspedisi Indonesia Raya yang diselenggarakan oleh TV One bekerja sama dengan Mabes TNI melakukan penelusuran di Kepulauan Natuna. Masih mengangkat tema yang sama, yakni mengulas masalah perikanan dan kehidupan masyarakat pesisir yang berkutat dengan permasalahan hidupnya.
Seperti episode sebelumnya, Letkol Laut (P) Salim bertindak sebagai host atau pembawa acara yang melakukan penelusuran dengan berdialog dengan para nelayan serta tokoh masyarakat setempat.
Penulis buku Ketahanan Pangan dari Laut: Perspective Sea Power, My Fish My Life ini memulai petualangan dari kunjungannya ke salah seorang tokoh masyarakat Natuna, Rodhial Huda. Pamen TNI AL yang sehari-hari bertugas sebagai Staf Asops Panglima TNI itu mendapat arahan dari Rodhial bahwa pulau terdepan ini memiliki fungsi yang strategis sekali bagi bangsa Indonesia.
Namun lagi-lagi bangsa Indonesia masih terlelap dalam tidur panjangnya. Kehadiran Negara selama 70 tahun merdeka seakan membiarkan wilayah ini tanpa mensyukuri akan Rahmat Illahi yang dianugrahkan berupa sumber daya alam yang begitu melimpah.
“Tetapi justru China, Vietnam, Thailand, Malaysia dan Singapura yang nampaknya hadir sebagai Invisible Predator di sini. Bersama Bang Rodhial Huda telah membuat mata kita terbuka untuk kembali mengingat pesan Bung Karno yaitu Hanya jika kepribadian kita seirama dengan sifat Tanah Air kita itulah, maka kita dapat menjadi satu Bangga yang Besar,” ujar Salim saat dikonfirmasi maritimnews (30/3).
Dari perbincangan hangat tersebut akhirnya tim mendapat ide judul “Ini Laut Punya Siapa?”. Hal itu berawal dari posisi Pulau Natuna secara Geografis dan tentunya potensi hasil lautnya. Kepulauan Natuna adalah kepulauan paling utara di Selat Karimata yang menjadi pintu gerbang NKRI di Laut China Selatan.
Di sebelah utara, Natuna berbatasan dengan perairan Vietnam dan Kamboja. Sedangkan di bagian Barat, Pulau Natuna berbatasan dengan Singapura dan Malaysia. Selain itu, Natuna berada di jalur pelayaran internasional dari dan menuju China, Hongkong, Jepang, Korea dan Taiwan.
“Oleh karena itu, sangatlah wajar jika banyak kepentingan di Laut Natuna,” papar Salim.
Lulusan AAL tahun 1995 itu selanjutnya mengatakan potensi perikanan di Laut Natuna sangat menjanjikan. 1 juta ton per tahun dan baru 36% yang tergarap, membuat pulau Natuna menjadi primadona para juragan ikan. Megapa demikian?. Tak lain karena kemampuan nelayan lokal yang masih terbatas dari segi pengetahuan maupun teknologi.
“Dengan hanya 36% yang baru tergarap, wajar saja jika banyak pencurian ikan terjadi di Laut Natuna. Para pelakunya tentunya nelayan-nelayan dari Negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna,” tandasnya.
Sambung Salim, alasan mereka mencuri ikan, pertama adalah potensi ikan di laut Natuna yang masih melimpah.dan kedua, pertahanan laut di sekitar Natuna sangat lemah. “Hal ini disebabkan faktor luasnya laut Natuna dan terbatasnya alutsista kita untuk meng-cover Laut Natuna serta banyak hal lainnya yang menjadi keterbatasan aparat keamanan kita,” tambah dia.
Pamen TNI AL asal Surabaya yang rajin menulis buku dan mengisi seminar ini mengakui sejak Menteri Susi melakukan penertiban, banyak hal yang berubah. Para pencuri tidak bisa lagi seenaknya mencuri, sedangkan aparat yang akan “bermain” akan berpikir ulang untuk melakukannya.
“Kini, banyak patroli keamanan laut yang beroperasi di wilayah yang rentan pencurian ikan, misalnya di Pulau Laut. Pulau ini menjadi surga bagi kapal asing untuk melakukan kejahatan. Entah itu mencuri ikan atau menyelundupkan barang-barang illegal,” imbuhnya.
Faktor terakhir, lanjut Salim, adalah minimnya peralatan yang dimiliki oleh nelayan Natuna. Dengan peralatan yang minim, para nelayan Natuna hanya bisa mengambil ikan sesuai dengan kemampuannya.
“Kadang dalam sehari dapat 10 kg, kadang kurang dari itu. Begitulah kondisinya saudara-saudara kita ini, sungguh miris kan,” selorohnya.
Untuk menggarap potensi ikan di Laut Natuna, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan. Salah satunya adalah penyebaran nelayan dari pulau Jawa ke laut Natuna . “Nantinya, nelayan dari Jawa akan disediakan wilayah penangkapan ikan sesuai dengan kapasitas kapal, kawasan pemukiman dan tentunya tempat pelelangan ikan untuk menjual hasil tangkapan mereka,” ulas Salim.
Lalu soal nasib nelayan Natuna pun terlintas pertanyaan apakah mereka menjadi “tamu” di rumah sendiri atau hanya menjadi penonton ketika ratusan kapal asing mencuri di laut mereka dan puluhan kapal nelayan Jawa menikmati hasil laut Natuna? Hal itu tidak lepas dari pengamatan Salim yang merupakan salah satu penggagas hipotesa Nusantara sebagai peninggalan Negeri Saba tersebut.
Seperti kata seorang nelayan Natuna yang bernama Badrun, yang sudah saya temui. Dia mengatakan saya bingung, sebenarnya ini laut punya siapa pak,” kata Salim seraya menirukan keluh kesah nelayan lokal.
Pada episode kali ini, penutur/host akan banyak membahas soal isu keamanan di laut Natuna. Terlibat dalam kegiatan patroli keamanan laut menjadi sajian utama dalam episode ini. Latar belakang host yang seorang tentara dan pernah menjadi komandan KRI, akan memberi gambaran secara utuh tentang permasalahan keamanan dan pertahanan di wilayah Natuna.
“Apalagi sedang ramai isu Terusan Kra yang akan dibuat oleh Thailand. Apakah benar kekhawatiran beberapa pihak jika terusan ini dibangun akan merubah peta industri jalur perkapalan di wilayah laut Natuna,” bebernya.
Selain itu, potret kehidupan nelayan tak luput dari bahasan. Nelayan Natuna agak sedikit berbeda dengan nelayan di wilayah lain. Mereka terbiasa melaut sendiri dengan perahu yang seadanya. Hasil laut tidak dijual ke pelelalangan, melainkan dijual ke juragan setempat yang biasa menampung ikan hasil tangkapan nelayan.
Selain kehidupan nelayan, episode ini juga akan membahas soal budidaya ikan.“Biasanya mereka memilih ikan kerapu. Alasanya, tak lain karena nilai ekonomis dari ikan kerapu sangatlah tinggi,” pungkas Salim.
Adegan panen ikan kerapu di keramba milik nelayan akan sangat menjual dalam episode ini yang rencananya akan ditayangkan pada bulan Mei 2017 mendatang di TV One.
(Adit/MN)
Makassar (Maritimnews) - Peluang kolaborasi internasional di sektor kepelabuhanan dan kawasan industri semakin terbuka setelah…
Makassar (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkuat sinergi…
Bandar Lampung (Maritimnews) - IPC Terminal Peti Kemas (IPC TPK) area Panjang berhasil menjaga produktivitas…
Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) konsisten…
Jakarta (Maritimnews) - Dalam rangka meningkatkan kepedulian terhadap anak yatim.piatu, Koperasi Karyawan (KOPKAR) Terminal Petikemas…
Bandar Lampung (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Panjang mencatat kinerja operasional yang…