Solusi Maksimalkan Potensi Tangkap Lestari, KKP Izinkan Kapal Ikan Eks Asing Beroperasi Kembali

Kantor Kementrian Kelautan dan Perikanan, Gedung Mina Bahari.

MN, Jakarta – Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Kelautan dan Perikanan yang merupakan aturan turunan dari UU Cipta Kerja, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengizinkan kapal ikan buatan luar negeri alias kapal ikan eks asing kembali beroperasi di Indonesia. 

Juru Bicara KKP Wahyu Muryadi turut membenarkan rencana tersebut. Wahyu berpendapat bahwa diizinkannya kapal ikan eks asing di perairan Indonesia sebagai cara pemerintah memanfaatkan sisa kuota potensi tangkap lestari yang belum termanfaatkan. Kuota untuk kapal ikan eks asing ini sendiri sama besarnya dengan kuota untuk nelayan kecil dengan kapal tangkap di bawah 30 gross ton (GT). 

“Itupun hanya 50 persen dari sisa kuota yang ada, sedangkan 50 persen lagi dipersiapkan untuk nelayan-nelayan berskala kecil dengan kapal di bawah 30 GT,” jelasnya.

Menurut daata yang dirilis oleh KKP, potensi perikanan di laut RI mencapai 12,5 juta ton. Namun, tangkapan lestari ditetapkan hanya 80 persen dari total potensi, atau sebesar 10,2 juta ton. 

Dari total potensi tangkap lestari, masih ada 3,4 juta ton yang belum termanfaatkan. Separuh dari itu atau sekitar 1,7 juta ton akan dipenuhi untuk para nelayan kecil di bawah 30 GT. Kemudian sisa potensi tangkap lestari disiapkan untuk kapal-kapal di atas 30 GT. 

“Untuk memanfaatkan kuota ini kalau setara 200 GT – 300 GT per kapal, maka diperlukan 2.400 kapal. Ini tak mungkin dipenuhi kapal buatan dalam negeri sehingga kita perlukan buatan luar negeri baru maupun bekas,” tambah Wahyu.

Bukan asal mengizinkan, KKP sudah mengatur syarat-syarat yang harus dipenuhi kapal eks asing. Meski kapal buatan luar negeri, kapal itu haruslah berbendera Indonesia.

Kapal eks asing tersebut hanya boleh beroperasi di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) dan laut lepas. Kapal-kapal itu pun harus menggunakan atau memperkerjakan nahkoda dan Anak Buah Kapal (ABK) berwarganegara Indonesia. 

“Wajib mendaratkan seluruh hasil tangkapan di pelabuhan di dalam negeri dan harus menggunakan alat tangkap yang sesuai dengan aturan yang berlaku dan ramah lingkungan,” tukasnya. 

Lebih dari itu, KKP sudah menentukan sistem bagi hasil dari hasil tangkapan kapal ikan eks asing itu. Hal ini diberlakukan guna memberikan kepastian investasi dan meningkatkan pendapatan negara. Wilayah operasinya juga diatur hanya di beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang sudah ditentukan. 

“Maka kami membuka opsi sistem bagi hasil sehingga dalam jangka waktu tertentu bisa dijamin kepastian investasinya, sekaligus dapat membantu pengawasan yang dilakukan KKP, ” pungkasnya.

A.P Sulistiawan

Redaktur

Share
Published by
A.P Sulistiawan

Recent Posts

Pelindo Group Makassar Memperingati Hari Lahir Pancasila

Makassar (Maritimnews) - Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni, Pelindo Group…

14 hours ago

Kepercayaan Industri Otomotif, Ekspor IPCC Tumbuh Signifikan

Jakarta (Maritimnews) - Komitmen PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IDX: IPCC) untuk terus memperkuat kapasitas…

3 days ago

Layanan South China Java X-Press Feeders di IPC TPK Tanjung Priok

Jakarta (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menunjukkan komitmennya mendukung kelancaran arus logistik internasional…

3 days ago

Kebersamaan Idul Adha jadi Momentum bagi IPC TPK

Jakarta (Maritimnews) - Melalui semangat Hari Raya Idul Adha, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) berharap…

4 days ago

Pelindo Cilacap Salurkan Hewan Qurban Idul Adha 1447 H Bagi Masyarakat Sekitar

Tanjung Intan (Maritimnews) - Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M, program…

4 days ago

Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Salurkan Hewan Qurban 1447 H/2026 M

Jakarta (Maritimnews) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Tanjung Priok melaksanakan penyerahan Bantuan Program…

5 days ago