Kecam Berlanjutnya Pagar Laut PIK 2, Ketum HMI Bogor: Kolonialisme Gaya Baru!

MN, Bogor – Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor, Fathan Putra Mardela, memberikan kecaman atas masih berlanjutnya persoalan pagar laut di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 yang hingga kini belum diselesaikan secara tuntas dan menyeluruh.

Keberadaan pagar laut tersebut telah membatasi akses ruang laut yang selama ini menjadi ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat pesisir, khususnya nelayan. Laut yang seharusnya menjadi ruang publik bersama justru diperlakukan seolah-olah dapat dikuasai dan diklaim secara sepihak.

Praktik pemagaran laut ini mencerminkan pola kolonialisme gaya baru yakni penguasaan ruang hidup rakyat melalui kekuatan modal dan kekuasaan, sementara masyarakat terdampak kehilangan akses dan perlindungan. Jika dibiarkan, pola ini berpotensi mengulang sejarah perampasan ruang yang bertentangan dengan prinsip keadilan sosial dan kedaulatan negara atas wilayah lautnya.

“Yang juga mengganjal dan patut dipertanyakan publik adalah penegakan hukumnya. Tersangka yang ditetapkan sejauh ini justru berasal dari level kepala desa, sekretaris desa, hingga konsultan teknis. Padahal, proyek pagar laut dengan skala dan dampak sebesar ini mustahil berjalan tanpa keterlibatan aktor-aktor yang memiliki modal, kewenangan, dan pengaruh lebih besar,” ujar tokoh muda yang saat ini juga menjadi mahasiswa Pascasarjana IPB University.

Penegakan hukum yang berhenti pada aktor lapis bawah berpotensi memperkuat kesan bahwa hukum belum menyentuh inti persoalan. Jika aktor-aktor kunci yang berada di balik perencanaan dan penguasaan ruang laut tidak disentuh, maka proses hukum ini hanya akan menjadi formalitas tanpa keadilan substantif.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penyelesaian kasus pagar laut PIK-2 tidak boleh berhenti pada pembongkaran fisik semata. Negara harus membuka secara transparan seluruh rantai proses, mulai dari perencanaan, perizinan, hingga pihak-pihak yang paling diuntungkan dari penguasaan ruang laut tersebut.

Atas dasar itu, ia selaku Ketua Umum HMI Cabang Bogor mendesak adanya tindakan tegas, adil, dan transparan agar laut benar-benar dikembalikan sebagai ruang publik. Penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap supremasi hukum.

“HMI Cabang Bogor menyatakan komitmennya untuk terus mengawal persoalan ini sebagai bagian dari tanggung jawab moral mahasiswa dalam menjaga keadilan sosial, kedaulatan sumber daya alam, serta mencegah tumbuhnya kolonialisme gaya baru atas ruang hidup rakyat,” pungkasnya.

A.P Sulistiawan

Redaktur

Share
Published by
A.P Sulistiawan

Recent Posts

Hari Pelanggan Nasional 2026, IPC TPK Perkuat Sinergi Lewat Customer Rafting

Bogor (Maritimnews) – Dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menyelenggarakan…

6 hours ago

Agustus 2026, TPS Catat Throughput 128 Ribu TEUs

Surabaya (Maritimnews) - Kinerja arus petikemas (throughput) PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) untuk bulan Agustus…

6 hours ago

Vessel Operational Disruption; Kapan Pengalihan Kapal Menjadi Pilihan Tepat

Oleh: SAFUAN - Doctor in Management Science Gangguan operasional merupakan salah satu risiko yang tidak…

2 days ago

Dukung Asta Cita dan SDGs, IPC TPK Perkuat Kebersihan Palembang

Palembang (Maritimnews) - IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) melanjutkan komitmen keberlanjutan dan kepedulian terhadap lingkungan…

3 days ago

IPC TPK Dukung Rehabilitasi Mangrove Nasional bersama The North Green Movement

Jakarta (Maritimnews) - Mangrove memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, antara lain sebagai…

3 days ago

IPC TPK Paparkan Kinerja Operasional Real Time kepada Bappenas RI

Jakarta (Maritimnews) – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) menerima kunjungan lapangan dari Badan Perencanaan Pembangunan…

3 days ago